Halo! Lama tak bersua, tiba-tiba sudah ganti tahun lagi.
![]() |
Source: Pexels/Alex P |
Awalnya aku pikir, hanya anakku saja yang akan mengalami masa transisi yang emosional dan nggak mudah. Tapi, kalau coba lihat lagi ke dalam diri, ternyata proses sapih itu juga butuh kelapangan hati dari ibunya.
Persiapan manset mindset sebelum terjun untuk praktik
Sebelum turun ke praktiknya, aku coba buat konsep yang perlu aku tanamkan di otakku, berbekal kelas menyapih yang sebelumnya aku ikuti. Beberapa hal yang aku tanamkan adalah:
- Sebagai muslim, seiring dengan turunnya perintah untuk menyusui, Allah juga sekaligus memberikan petunjuk tentang masa menyusui. Maka, cukuplah ini sebagai pijakan dasar sebagai alasan aku harus menyapih tanpa ditunda.
- Sebelum terjun ke praktik, aku juga merasakan pergolakan emosi. Dari rasa insecure, nggak merasa cukup memberikan yang terbaik, separation anxiety, tapi kembali ke poin awal, karena ini perintah, maka ini juga bagian dari ibadah. Syaitan nggak suka dengan hambaNya yang berusaha menjalankan perintahNya, maka ditiupkan rasa was-was ke dalam hati manusia.
- “Apa yang aku suka belum tentu baik bagiku, apa yang aku tidak suka belum tentu buruk untukku, Allah yang paling tahu, apa yang dibutuhkan kami.” Proses yang sulit ini bukan berarti buruk, tapi memang sudah pasti harus dijalani. Dan lagi, memang banyak manfaat juga yang didapatkan anak saat ia berpisah dengan sumber makanannya selama 2 tahun terakhir hidupnya ini.
Yang aku lakukan saat emosi masih bergejolak
Aku coba berkomunikasi dengan anakku. Minta maaf kalau selama ini pernah kesal, bikin dia takut, dsb. Mencoba berkomunikasi juga dengan diriku, bagaimana selama ini saat aku menjadi ibu, tentang rasa bersalah, rasa insecure, rasa kesepian, dsb. Lalu, untuk anakku, aku bacakan buku tentang bentuk rasa sayang itu. Aku lebih sering kasih tau dia kalau aku sayang dia. Mengajarkan gestur peluk kepada kedua orangtuanya. Intinya, menyusui itu bukan satu-satunya tanda aku menyayanginya, dan menyusui bukan satu-satunya tanda bahwa aku adalah ibu(nya).
Di awal, aku sempat coba sounding dari h-2 bulan sebelum menyapih. Tapi, yang aku lupa, anak kita adalah makhluk paling peka dalam menyerap emosi orangtuanya. setelah mulai sounding, dia jadi lebih sering terbangun, nggak mau ditinggal setelah menyusui. Setelah kira-kira sebulan sounding, aku stop sounding. Dan mencoba lebih relaxed, harapannya agar anakku tahu, kalau semuanya akan tetap baik-baik saja. Dan, benar saja, setelah berhenti sounding, dia jadi lebih tenang. Baru setelah H-3, aku mulai sounding setiap mau tidur.
Apakah di hari H menyapih jadi lebih tenang? Ya, nggak juga. Anakku tetap menangis brutal, memohon (dia bilang “tolong…”), dan suara tangisnya sampai tersengal-sengal. Menurutku dan referensi dari dokter yang aku percaya, ini normal. Jadi, nggak apa-apa. Dia butuh merasakan dan mengeluarkan rasa sedihnya. 26 menit menangis, anak ini tertidur karena lelah.
Di hari H menyapih, yang aku rasakan adalah aku berempati dengan apa yang dirasakan anakku. Aku mengerti rasa sedih dan frustrasinya. Tapi, rasa sedih dan emosionalnya sudah tidak menguasaiku. Jadi, aku bisa menawarkan hal-hal yang menurutku bisa menenangkannya (walau ditolak), dan tetap berada di dekatnya saat dia menangis meraung-raung.
Proses menangis sampai tertidur ini, alhamdulillah hanya aku lalui dua kali di hari pertama. Setelahnya, alhamdulillah anak kami bisa diajak berkomunikasi, dan saat aku bilang nggak bisa, dia menawarkan sendiri hal alternatif kegiatan yang dari awal kami kenalkan. Kami hanya mengenalkan 3 kegiatan alternatif selain menyusui, yaitu tepuk-tepuk, usap-usap dan peluk. Satu hal penting yang menurutku penting, dari hari pertama menyapih, kenalkan kegiatan yang kita tahu kita bisa tanggung konsekuensinya.
Dari proses menyapih, aku belajar tentang detachment, apa yang aku pikir milikku dari awal, tidak pernah menjadi milikku. Anakku bukan milikku, ia titipan Allah. Tanggung jawab atas anak kita di hadapan Allah bukan hanya sebatas bagaimana anak kita nanti, tetapi juga perlakuan kita terhadap anak.
Sementara, untuknya, ini adalah awal dari pembelajaran tentang kemandirian. Di dunia yang serba tidak ideal ini, ada banyak hal yang harus ia selesaikan sendiri. Dan menyapih adalah awal dari sekian banyak pembelajaran yang akan ia dapatkan kelak.
Sebagaimana awal menyusui dulu, saat mengakhirinya, dua makhluk ini masih tetap belajar bersama-sama.
Ibu yang terus belajar,
No comments:
Post a Comment