Obrolan Teras
  • Beranda
  • Tentang Teras Saya
  • Self-Growth
    • Tumbuh
    • Ruang Kontemplasi
    • Sudut Pandang
    • English Pages
  • Relationship
    • Marriage Life
    • Motherhood
  • Ulasan
    • Supporting Kit
    • Ibu Baca Buku
    • Cerita dari Layar
  • Kontak

Ruang Kontemplasi

Motherhood

Cerita dari Layar


Sering banget usaha-usaha atau harapan terhenti karena MERASA waktunya nggak tepat. Setelahnya jadi melonggarkan usaha, karena udah terlanjur MERASA... Ini bukan waktunya. Merasa harus ditulis dengan huruf kapital sebagai penekanan, bahwa apa yang terjadi di kehidupan nggak selalu sejalan dengan apa yang DIRASA.

Termasuk sebenarnya saat akhirnya kembali menulis di halaman ini. Setelah beberapa bulan aku abaikan, karena lagi-lagi merasa waktunya belum tepat untuk menulis.

Terlalu rumit untuk menuangkan apa yang ingin aku utarakan.

Terlalu kosong sampai aku nggak tau apa yang ingin aku bagikan.

Terlalu ramai suasananya, aku susah fokus.

Terlalu sepi, lebih baik melakukan hal yang lainnya.

Terlalu sedikit waktunya, aku hanya akan bisa menulis satu paragraf.

Terlalu banyak waktu senggang, masa aku "hanya" menulis?

Dan pembenaran-pembenaran lain yang datang silih berganti.

Aku coba mengingat-ingat lagi tentang salah satu hobi yang juga "mati-matian" aku hidupkan lagi, membaca. Ini adalah hobi yang aku coba revisit lebih intens di 3-4 tahun terakhir. Mulai dari hanya baca saat di perjalanan menuju kantor kemudian bertambah lagi sebelum tidur dan saat akhir pekan. 1 tahun pertama rasanya berat sekali, 2-3 tahun selanjutnya baru mulai terasa "otomatis" saat menjalankan habit yang sedang dibangun ini. 

Aku suka baca, tapi aku sadar minat dan daya bacaku nggak selalu berbanding lurus. Dan tantangannya jujur makin terasa sejak menjadi ibu dengan anak yang masuk ke usia toddler. Permintaan untuk membacakan bukunya atau diajak main pretend play secara tiba-tiba di tengah momen membaca. I'm not putting the blame on my kid tho, since it's also coming from me, the distraction from my cellphone and doom scrolling is hugely concerning. I own that.

Akhirnya aku coba buat bikin time-blocking, dan mengalokasikan waktu khusus untuk kegiatan ini, yang berakhir dengan aku rusak sendiri. Nggak apa-apa, memang yang "works" buat orang lain belum tentu "works" buat kita, 'kan? Metode ini di satu sisi justru terasa intimidating untukku. "Bagaimana kalau aku belum bisa melakukannya karena ada hal lain yang lebih urgent?" adalah pertanyaan yang sering terngiang dan kalau terlewatkan justru bikin aku merasa bersalah. Padahal aku mengerjakannya karena atas dasar "suka" bukan sebagai pekerjaan dengan asas profesionalitas. Tapi, mungkin metode ini kurang cocok untukku.

Setelahnya aku coba menyelipkan aktivitas membaca buku di antara aktivitas-aktivitasku dalam satu hari. Desember tahun lalu, baru kutahu, ini ternyata termasuk konsep habit stacking yang diterangkan James Clear dalam bukunya yang berjudul Atomic Habits. Singkatnya, ini adalah teknik untuk "menempelkan" aktivitas baru pada aktivitas yang sudah jadi rutinitas. 

Misalnya, saat sedang masak dan menunggu masakan matang, aku akan menggunakan 10 menit waktu tunggu itu untuk membaca setidaknya 1 paragraf. Saat sedang membersamai anak yang sedang main, aku akan menggunakan 5 menit waktuku untuk membaca, walau hanya 1 kalimat. 

Jadilah habit stacking jadi solusi yang cukup masuk akal untukku saat ini. Metode ini memberikan transisi yang lebih smooth dan mengurangi potensi "efek kembang api", riuh di awal kemudian padam. Aku juga kasih treatment yang sama untuk olahraga, "1 set of squats is better than none".

Tentu, aku punya bayangan akan waktu-waktu yang ideal untuk menjalankan aktivitas tertentu. Misal seperti membaca buku saat sedang hujan, menulis saat anak sedang tidur, belajar di malam hari saat akulah satu-satunya orang yang masih/sudah terjaga. Tapi, seringnya hidupku nggak seideal itu.

Setelah tahu metode yang cocok buatku, ternyata ada kalanya habit nggak berjalan sesuai ekspektasi. Ada masanya aku hanya mampu membaca satu kalimat. Buku yang aku baca dalam satu hari hanya buku anakku waktu read aloud. Lupa dengan habit stacking karena tenggelam dalam ke-hectic-an, dll. Dari situ aku menyadari bahwa walau mulai dengan langkah kecil bukan berarti tanpa hambatan.

Maybe there's no such thing as perfect time to do something, maybe what we need is only a small step to start. Mulai dalam skala kecil, tempo yang pelan, sambil mengukur pace diri, dan tumbuh dari sana, dengan penuh kesadaran.

Selamat mencoba mengusahakan langkah kecil untuk apapun yang sedang kamu tuju! 




It's 10 PM, my son is fast asleep. Rain is pouring hard outside, the kind of weather where you just want to curl up under your blanket. I trace my baby's face slowly, watching his eyes close, listening to his calm breaths and feeling his fingers loosen, no longer holding mine. This moment slow me down and I'm taken back to the old days when I met the 15-year-old me.


Human Acts dari Han Kang adalah buku yang aku pilih di akhir bulan Juni, bukunya memang sudah lama ada di TBR-ku. Satu hal yang aku tahu, topik yang diangkat di buku ini yaitu 
pemberontakan Gwangju. 

Sedikit pengantar, tragedi Gwangju merupakan salah satu tragedi kelam dalam sejarah demokrasi Korea Selatan. Pemberontakan terjadi antara kelompok mahasiswa, pelajar dan masyarakat sipil dengan tentara di bawah kepemimpinan Presiden Chun Doo Hwan. Pemerintah Korea Selatan mengklaim korban tewas dari peristiwa tersebut berjumlah 200 orang dengan mayoritas merupakan warga sipil. Namun, para ahli dan sejarawan memperkirakan korbannya sekitar 600-2.300 jiwa. 

Untuk yang suka nonton film, aku rekomendasikan salah satu film berdasarkan cerita nyata dengan latar kejadian pemberontakan Gwangju, A Taxi Driver (2017). Tapi, kali ini kita akan bahas tentang buku dari Han Kang dulu, ya.

Sekarang, saatnya siapkan minuman hangat, camilan, duduk nyaman dan selamat datang di terasku.

Sinopsis

Pada bulan Mei 1980 di Korea Selatan terjadi pergolakan hebat oleh masyarakat Gwangju terhadap rezim diktator Chun Doo Hwan. Cerita dimulai ketika Dong Ho mencari sahabatnya Jeong Dae saat bergabung dalam solidaritas dan kemanusiaan di tengah mencekamnya situasi kantor Pemerintah Daerah Provinsi. 

Alur Human Acts bergerak maju dan menyatu dengan latar situasi yang terjadi saat itu, menghasilkan pengalaman-pengalaman personal dari sudut pandang beberapa tokoh. Setiap babnya menceritakan tentang orang-orang yang menjadi korban kebiadaban rezim. Dari anak-anak yang bisa mewujudkan mimpi-mimpinya karena takdir atas dirinya sudah "diputuskan" oleh tentara, pembredelan dan sensor pada buku dan karya seni, kengerian yang terjadi dalam sel-sel gelap tahanan politik hingga duka yang diemban ibu yang kehilangan buah hatinya. 

Setiap pengalaman yang diceritakan oleh Han Kang dalam novel Human Acts merupakan representasi pengalaman kolektif dari masyarakat Gwangju. Ironisnya bahkan saat rezim berhasil tumbang, trauma yang diemban tak lantas hilang.  

Kesan

Human Acts adalah buku yang berat untuk dibaca, setidaknya untukku. Terlebih mengingat ini diceritakan berdasarkan tragedi bersejarah yang memilukan. Bukan hanya sekali aku berharap apa yang aku baca ini nggak terjadi. Tapi, bahkan Han Kang sendiri muncul di bab terakhir untuk mengonfirmasi kejadian yang terjadi dan bersinggungan dengannya. Sedih sekali rasanya tiap kali sampai di bagian akhir babnya.

Setiap bab menceritakan tokoh yang berbeda yang pernah bersinggungan dengan Dong-Ho. Orang-orang ini adalah sahabat Dong Ho, editor, tahanan politik, pekerja pabrik dan ibu Dong Ho. Bagiku orang-orang yang menjadi pusat cerita di setiap bab ini adalah potret masyarakat Gwangju yang masih terus berjuang untuk bertahan hingga saat ini. 

                                                                

Han Kang mengemas setiap bab dengan sudut pandang yang beragam, beberapa bab menggunakan sudut pandang orang pertama, kedua dan satu bab dengan sudut pandang orang ketiga. Penggunaan sudut pandang orang pertama dan kedua dalam buku ini membuat pengalaman selama dan sesudah tragedi di bulan Mei 1980 itu terasa sangat dekat.

Dampak dari kebrutalan rezim dan aparat tidak hanya dirasakan oleh mereka yang berpulang di masa itu. Salah satu hal yang paling memuakkan buatku adalah bagaimana perlakuan negara terhadap masyarakat yang seolah tidak ada harganya. Bahkan, mereka yang tidak ada sangkut pautnya pun ikut menjadi korban. Sakit sekali rasanya membaca salah satu bagian buku yang menceritakan bahwa korbannya adalah seorang ibu yang tengah hamil besar.


Han Kang menegaskan bagaimana luka masyarakat Gwangju tidak sembuh walau rezim sudah tumbang. Bagi mereka yang selamat, mereka terus hidup dalam survival mode, di mana kebiasaan saat berada di sel secara tidak sadar masih dilakukan, tidur dalam bayang-bayang mimpi buruk penyiksaan, dan ruang kosong yang tercipta setelah ditinggal yang terkasih.

Buku Ini Mungkin Cocok untuk...

Buatku ini buku yang berat karena nuansa kelam yang dibawanya, sepanjang membacanya aku seperti sedang naik rollercoaster yang terus terjun. Ini buku pertama di tahun 2025 yang membuatku menangis sesegukkan. Buat kamu yang menyukai fiksi sejarah, fiksi politik dan literasi sastra, buku ini bisa jadi cocok untuk kamu.

Namun, di luar dari faktor ketertarikan genre, menurutku buku ini penting untuk dibaca. Harapannya, kita bisa lebih sadar akan dampak dari rezim diktator yang berkuasa.

Penutup

Human Acts memberikan perspektif tentang pemberontakan Gwangju yang mencekam, bahkan terornya masih terus hidup dalam diri masyarakat yang bersinggungan dengan tragedi itu, atau bahkan hanya dengan mengingat nama "Gwangju". 

Human Acts adalah kumpulan pengalaman kolektif dari pihak-pihak yang berada di bawah rezim represif, masyarakat yang tak bersalah, media yang dibredel, karya seni yang dibatasi, tahanan politik yang disiksa psikis dan fisiknya, orang-orang yang kehilangan dan mereka yang terus menuntut keadilan.

Human Acts menunjukkan betapa manusia memiliki sisi yang lembut nan rapuh seperti kaca, bisa disatukan dalam nama kemanusiaan dan solidaritas.

Itu tadi kesanku saat membaca Human Acts. Buat kamu yang sudah membaca bukunya, apa yang paling menarik buatmu? Apa yang paling membekas? Buat yang belum baca, tertarik untuk baca? Share di kolom komentar, ya!


Panjang umur perjuangan,





Habis membaca Babel, aku terjebak dalam reading slump! Rasanya susah banget untuk memulai bacaan baru. Akhirnya, suatu hari, secara iseng pula, aku coba baca buku klasik yang dari segi cerita, sepertinya cukup ringan. 

Pilihanku jatuh pada Little Women (1868) oleh Louisa May Alcott. Ini buku yang sudah lama aku simpan setelah aku dapatkan secara gratis di Amazon Kindle. Sebelum membaca, aku pikir, aku sudah cukup kenal jalan ceritanya karena toh sudah pernah menonton versi adaptasi filmnya. Tapi, tentu saja beda media, beda gaya penyampaian, di beberapa hal aku mendapatkan sudut pandang yang berbeda juga. Aku ceritakan lebih detail, ya!

Sinopsis

Bercerita tentang empat bersaudara dari keluarga March di masa perang saudara di Amerika. Saat membaca buku ini, kita akan diajak untuk melihat bagaimana kehidupan keluarga ini saat ayah mereka harus pergi ke medan perang. 

Buku ini banyak mengeksplorasi topik-topik tentang cinta, persaudaraan, keluarga, moral dan pertumbuhan dari empat bersaudara Meg, Jo, Beth dan Amy di tengah kondisi yang serba kekurangan.

Tema

Photo By @msfoxfeather

Buku ini termasuk dalam tema coming of age, karena kita memang diajak untuk melihat kehidupan masa muda hingga menjadi dewasa dan perkembangan karakter dari empat bersaudara ini. Aku suka bagaimana Louisa menceritakan mereka ini sebagai sosok-sosok yang nggak sempurna, yang melakukan kesalahan, namun juga belajar darinya. 

Sosok-sosok yang masih belajar itu terlihat di momen-momen seperti saat Meg berusaha berdandan menjadi seseorang yang bukan jati dirinya. Jo yang harus menerima keputusan Aunt March untuk tetap tinggal dan nggak diajak ke Eropa karena ulahnya sendiri. Beth yang berusaha dan memberanikan dirinya untuk mengucapkan terima kasih secara langsung pada Mr. Laurence. Amy sebagai anak terkecil dalam keluarga mereka yang biasa menerima banyak kemudahan, namun akhirnya berusaha belajar tekun dan mandiri saat harus tinggal di kediaman Aunt March. Bahkan Marmee, sosok bijaksana dalam cerita keluarga March, yang belajar mengendalikan amarahnya. 

Refleksi Personal

Little Women adalah buku yang memberikan rasa nyaman untuk dibaca saat sedang lelah, karena rasa aman yang diberikan dalam keluarga March memang menular ke pembacanya, sehingga membuat siapa saja serasa sedang "dipuk-puk". 

Aku pribadi baru pertama kali membaca buku ini. Di umur yang menuju 30 dan juga sudah punya anak, rasanya seperti menerima surat cinta dari ibu setiap kali sampai di bagian Marmee yang memberikan nasihat-nasihat tentang kehidupan untuk anak-anaknya. Sebagai orang dengan love language berupa words of affirmation, membacanya serasa dipeluk. Namun, di sisi lain, aku jadi berpikir, ternyata buku yang dirilis 150-an tahun yang lalu ini, masih punya nilai-nilai pengasuhan yang relevan untukku.

Buatku ini jadi pengalaman personal yang menghangatkan hati. Koneksi yang dibangun Marmee dengan anak-anaknya kurasa jadi salah satu aspirasiku yang juga seorang ibu untuk anakku. Ini juga mengingatkanku dengan sosok Mama yang kerap menyatakan cintanya lewat makanan. Di setiap momen melelahkan ada makanan yang membuat perut nyaman dan tidur lebih nyenyak. Walau sekadar nasi hangat dan telur ceplok dengan kecap manis. Sebuah bukti, cinta ibu bisa tumbuh dan tersalurkan dalam berbagai bentuk.

Dengan karakter yang beragam, Louisa meninggalkan pertanyaan bagi para pembaca, bagaimana jika perempuan punya ambisi dan ingin melakukan hal-hal di luar peran hasil konstruksi masyarakat di sekitarnya? Sambil menulis bagian ini, aku teringat sosok Jo dan Amy. Jo yang ingin menjadi penulis, sementara Amy ingin menjadi seorang pelukis dan menikahi seseorang yang punya kehidupan yang lebih baik dibandingkan dengan keluarganya. 

Louisa juga menunjukkan sisi lain saat keputusan dan kesiapan itu juga diserahkan pada perempuan untuk memilih. Bahkan saat mereka memilih untuk hidup dan menjalani peran tradisional sebagaimana yang dilakukan Meg dan aspirasi yang diungkapkan Beth, mereka tetap dapat merasakan kebahagiaan. 

Bayangkan, narasi ini dikeluarkan di tahun 186, di tengah masyarakat yang menjunjung nilai-nilai tradisional. Louisa justru hadir dengan perspektif yang progresif tentang kebutuhan perempuan untuk memilih sendiri jalan hidupnya dibandingkan sekadar mengikuti jejak-jejak konvensional. Perempuan bisa memilih misalnya untuk punya ambisi dan passion untuk dikejar dan sama baiknya dengan mereka yang memutuskan untuk melangkah menuju kehidupan pernikahan. Setelah melewati 3 abad, ternyata perempuan saat ini pun masih memperjuangkan apa yang saat itu diperjuangkan anak-anak di keluarga March.

Photo by cinnamoncappucino

Bagian menarik lainnya tentu saja romansa yang dijalin oleh March Sisters ini. Rasanya aku paling tersentuh saat membaca bagian Meg dan John Brooke. Gemas sekali! Lalu tentu saja, Jo dan Laurie. Mungkin, karena aku sudah lebih dulu menonton film Little Women arahan Greta Gerwig (2019), bagian ini sudah nggak lagi membuatku terkejut dan menyayangkannya, ya. Tapi, rasanya seperti mendapatkan closure yang nggak bisa aku tangkap saat menonton film. 

Selanjutnya, Amy dan Laurie. Novelnya menurutku menceritakan perkembangan karakter Amy secara lebih adil. Aku suka sekali perkembangan karakter Amy di novel, dari yang sebelumnya tumbuh sebagai anak terkecil di keluarganya hingga menjadi sosok yang tekun, pembelajar, bisa menempatkan diri dan sisi romansa yang terbangun dengan Laurie pun terasa lebih natural. 

Walau begitu, aku merasakan resonansi yang lebih dekat justru pada Meg. Mungkin juga karena posisinya lebih dekat dengan situasiku saat ini, ya. 

Buku Ini Mungkin Cocok untuk...

Walau buku ini punya genre young adults, menurutku bukunya cocok dibaca siapa saja(mulai 10 tahun ke atas). Setiap kali membacanya kamu akan mendapatkan pengalaman yang berbeda. Bisa jadi, di umur 20 saat membaca kamu akan jatuh cinta dengan sosok Jo dan ambisinya, tapi siapa yang tahu 10 tahun lagi, justru Meg yang terasa paling dekat?

Kalau kamu sedang lelah, butuh nasihat ibu, ingin diberikan afirmasi positif dan mungkin juga baru saja melakukan sebuah kesalahan, saatnya kamu baca buku ini. 

Penutup

Sebagai penutup, aku mau kasih beberapa kutipan dari Marmee di buku Little Women. Hope this kindness always finds us everywhere!


“My Jo, you may say anything to your mother, for it is my greatest happiness and pride to feel that my girls confide in me and know how much I love them.” —Marmee
“Right, Jo. Better be happy old maids than unhappy wives, or unmaidenly girls, running about to find husbands,” —Marmee
“Then let me advise you to take up your little burdens again, for though they seem heavy sometimes, they are good for us, and lighten as we learn to carry them. Work is wholesome, and there is plenty for everyone. It keeps us from ennui and mischief, is good for health and spirits, and gives us a sense of power and independence better than money or fashion.” —Marmee
“Criticism is the best test of such work, for it will show her both unsuspected merits and faults, and help her to do better next time. We are too partial, but the praise and blame of outsiders will prove useful, even if she gets but little money.” —Marmee
Untukmu yang mau membaca buku ini, selamat membaca surat cinta dari Ibu,

Ibu Baca Buku,




Some advice is just so good
that it sticks to our minds, imprints on our hearts, and shapes the way we think and live. Do you ever have that one advice that does those things to you? Well, I do, and I want to share mine with you.

The Advice That Changed My Perspective


I got it from my colleague who became a dear friend. We were in the middle of a conversation about the mundane life of workers, past experiences, and future aspirations until I brought up the topic of career growth. And that's when she said, "Don't settle for less".

In my younger years, I thought that it was a matter of calculating how much of wages a company could pay me or chasing for better financial opportunities. Little did I know, well, it's so much more than that. I mean, that can be included, but there are a lot of factors that we can add to that context as well. 

Deeper Than I Thought


Turns out, to be able to embody "Don't settle for less" in our life means I need to get to know myself better. I need to know what values I hold, my boundaries according to what I can and cannot tolerate, my pride, how I can contribute, and how I want to grow, before making choices that align with my values and potential.

That one thing (can be a job, company, spouse, life decision, partner, etc.) maybe couldn't always serve us laughter, blooming flowers, or butterflies in the park. But surely, it's easier for us to walk through when we believe that them/holding it, could lead us to growth and fulfillment.


A New Playground: Motherhood 


Being a stay-at-home mom myself, makes me think about how to apply "Don't settle for less" when I'm actually not facing some kind of options for a career ladder or promotions opportunity. So to what extent do I could apply "Don't settle for less" in my life especially? Or is it irrelevant now? 

I realized, how my life seems to embrace slow living in a sense of not hustling the 9-5 life. But, lately, I realize, this should not be the reason for not implementing the advice I got years ago. The essence of "Don't Settle for Less" is still relevant. I might live a slower-paced life, but that doesn't stop me from chasing big things in life and striving to grow. 

Now, "Don't Settle for Less" means living my role with intention. It is now finding joy in the mundane life, pushing myself to always learn new things, and nurturing with a passion for learning.

If right now I need to stay at home, I need to do it mindfully, with the spirit of learning. Therefore, I can thrive, not just survive. 'Don't settle for less" turns out applied not only to choosing between available options that we have. It might have as well applied to push ourselves to walk the extra mile. 


Let's Pour It into More Actionable Steps



Here is how I took "Don't Settle for Less" as actionable advice that I intend to do it daily:

  1. Homemade snacks: Making my own homemade snacks for my family gives me a sense of accomplishment and love.
  2. Reading and writing: I read books and any kind of genres, it helps me explore life outside of my house. I challenged myself to write as a form of exhaling the input I got from reading. It gives me a kind of "time out".
  3. Slow hobbies: It's not a new hobby, but playing ukulele and crocheting still brings me joy. 
  4. Time management: Living my day-to-day with time blocking to balance the time I have for myself, my kid, and my husband. Of course, sometimes I screwed up, but at least it didn't get so far.
  5. Mindful parent: Oh, I still struggle every day to do this. But what I've been trying is by playing with my kid mindfully, get myself into whatever the world he imagines. Feel the joy and the connection built during our playtime, bedtime, lunch/breakfast/dinner time. 
  6. Embracing imperfections: Let it be. Let the imperfections happen, for perfection is nowhere to be found. Embrace it. 

For me, "Don't settle for less" is a reminder to strive for growth, that we can always dream bigger every day, and that we can take the extra mile, even if it's a foggy way that you can't even see what's ahead of you.


Now, what about you? Is there any advice that sticks to your mind and shapes your life? I'd love to know your story. Please share yours in the comments below. Let it inspire the world!




Older Posts Home

Tentang Saya

Halo! Terima kasih sudah mampir ke teras saya. Ini adalah teras untuk menepi sejenak dari dunia yang tergesa.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Tentang 'Waktu yang Tepat'
  • Healing from Loss: A Conversation with Younger Self
  • Best Advice Before 30? Here is Mine...
  • Food Preparation: Kuncian Masak Hemat dan Anti Galau
  • A Warm Morning in the Park

Categories

  • Cerita dari Layar 7
  • English Pages 3
  • Ibu Baca Buku 4
  • Marriage Life 1
  • Motherhood 4
  • Ruang Kontemplasi 8
  • Sudut Pandang 4
  • Tumbuh 3
  • Ulasan 1

Blog Archive

  • ▼  2026 (1)
    • February (1)
  • ►  2025 (10)
    • August (1)
    • July (1)
    • June (2)
    • May (3)
    • April (2)
    • January (1)
  • ►  2024 (3)
    • November (1)
    • August (2)
  • ►  2022 (6)
    • December (1)
    • August (1)
    • March (1)
    • February (2)
    • January (1)
  • ►  2021 (7)
    • June (2)
    • April (1)
    • March (1)
    • January (3)
  • ►  2020 (5)
    • May (1)
    • March (1)
    • February (3)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates