Termasuk sebenarnya saat akhirnya kembali menulis di halaman ini. Setelah beberapa bulan aku abaikan, karena lagi-lagi merasa waktunya belum tepat untuk menulis.
Terlalu rumit untuk menuangkan apa yang ingin aku utarakan.
Terlalu kosong sampai aku nggak tau apa yang ingin aku bagikan.
Terlalu ramai suasananya, aku susah fokus.
Terlalu sepi, lebih baik melakukan hal yang lainnya.
Terlalu sedikit waktunya, aku hanya akan bisa menulis satu paragraf.
Terlalu banyak waktu senggang, masa aku "hanya" menulis?
Dan pembenaran-pembenaran lain yang datang silih berganti.
Aku coba mengingat-ingat lagi tentang salah satu hobi yang juga "mati-matian" aku hidupkan lagi, membaca. Ini adalah hobi yang aku coba revisit lebih intens di 3-4 tahun terakhir. Mulai dari hanya baca saat di perjalanan menuju kantor kemudian bertambah lagi sebelum tidur dan saat akhir pekan. 1 tahun pertama rasanya berat sekali, 2-3 tahun selanjutnya baru mulai terasa "otomatis" saat menjalankan habit yang sedang dibangun ini.
Aku suka baca, tapi aku sadar minat dan daya bacaku nggak selalu berbanding lurus. Dan tantangannya jujur makin terasa sejak menjadi ibu dengan anak yang masuk ke usia toddler. Permintaan untuk membacakan bukunya atau diajak main pretend play secara tiba-tiba di tengah momen membaca. I'm not putting the blame on my kid tho, since it's also coming from me, the distraction from my cellphone and doom scrolling is hugely concerning. I own that.
Akhirnya aku coba buat bikin time-blocking, dan mengalokasikan waktu khusus untuk kegiatan ini, yang berakhir dengan aku rusak sendiri. Nggak apa-apa, memang yang "works" buat orang lain belum tentu "works" buat kita, 'kan? Metode ini di satu sisi justru terasa intimidating untukku. "Bagaimana kalau aku belum bisa melakukannya karena ada hal lain yang lebih urgent?" adalah pertanyaan yang sering terngiang dan kalau terlewatkan justru bikin aku merasa bersalah. Padahal aku mengerjakannya karena atas dasar "suka" bukan sebagai pekerjaan dengan asas profesionalitas. Tapi, mungkin metode ini kurang cocok untukku.
Setelahnya aku coba menyelipkan aktivitas membaca buku di antara aktivitas-aktivitasku dalam satu hari. Desember tahun lalu, baru kutahu, ini ternyata termasuk konsep habit stacking yang diterangkan James Clear dalam bukunya yang berjudul Atomic Habits. Singkatnya, ini adalah teknik untuk "menempelkan" aktivitas baru pada aktivitas yang sudah jadi rutinitas.
Misalnya, saat sedang masak dan menunggu masakan matang, aku akan menggunakan 10 menit waktu tunggu itu untuk membaca setidaknya 1 paragraf. Saat sedang membersamai anak yang sedang main, aku akan menggunakan 5 menit waktuku untuk membaca, walau hanya 1 kalimat.
Jadilah habit stacking jadi solusi yang cukup masuk akal untukku saat ini. Metode ini memberikan transisi yang lebih smooth dan mengurangi potensi "efek kembang api", riuh di awal kemudian padam. Aku juga kasih treatment yang sama untuk olahraga, "1 set of squats is better than none".
Tentu, aku punya bayangan akan waktu-waktu yang ideal untuk menjalankan aktivitas tertentu. Misal seperti membaca buku saat sedang hujan, menulis saat anak sedang tidur, belajar di malam hari saat akulah satu-satunya orang yang masih/sudah terjaga. Tapi, seringnya hidupku nggak seideal itu.
Setelah tahu metode yang cocok buatku, ternyata ada kalanya habit nggak berjalan sesuai ekspektasi. Ada masanya aku hanya mampu membaca satu kalimat. Buku yang aku baca dalam satu hari hanya buku anakku waktu read aloud. Lupa dengan habit stacking karena tenggelam dalam ke-hectic-an, dll. Dari situ aku menyadari bahwa walau mulai dengan langkah kecil bukan berarti tanpa hambatan.
Maybe there's no such thing as perfect time to do something, maybe what we need is only a small step to start. Mulai dalam skala kecil, tempo yang pelan, sambil mengukur pace diri, dan tumbuh dari sana, dengan penuh kesadaran.
Selamat mencoba mengusahakan langkah kecil untuk apapun yang sedang kamu tuju!
.png)


.png)









