
|
Foto Food Preparation waktu saya masih sering beli bahan pangan di supermarket terdekat |
Kurang lebih tiga bulan terakhir ini merupakan masa transisi saya dari status lajang menjadi istri orang. Di rumah tangga ini, saya dan suami sudah sepakat untuk membagi tugas domestik rumah, karena kebetulan kami berdua bekerja formal dari pukul 9 - 6 dan juga hidup tanpa ART.
Salah satu yang menurut saya cukup menantang adalah saat tugas memasak jatuh kepada saya. Ya, jujur saja, walau pernah memasak beberapa hidangan untuk sarapan yang sangat dasar, saya bisa dibilang sangat jarang menjurus tidak pernah masuk dapur untuk memasak untuk sehari-hari.
Karena jadwal pekerjaan kami yang cukup menyita waktu, dan saya juga bukan orang yang dapat dengan cepat menentukan apa yang ingin saya makan pada saat itu juga, akhirnya saya memutuskan untuk melakukan food preparation atau meal preparation untuk mempermudah kehidupan saya dan rumah tangga saya.

Selama ini saat membicarakan patriarki kita seringkali berpikir bahwa ini berhubungan dengan keadaan perempuan yang ditekan, yang tidak dibiarkan bebas, tidak diberi kesempatan yang sama untuk berkembang atau mengaktualisasikan dirinya.
Di saat yang sama, kondisi-kondisi tadi seringkali juga ditampakkan dengan visualisasi yang seakan membagi perempuan menjadi dua golongan, yaitu perempuan yang pusat kegiatannya di rumah (identik dengan pekerjaan domestik) juga dengan perempuan yang pusat kegiatannya di luar rumah (identik dengan pekerja di sektor formal).
Pada kenyataannya, patriarki nggak selalu muncul dalam bentuk-bentuk yang senyata itu. Bentuknya bisa sangat abstrak, se-abstrak pikiran dan perasaan. Ibarat tanaman, patriarki tumbuh, tidak subur tapi kerdil, tidak mati tapi ada. Kenapa tidak hilang? Karena ternyata yang mewariskannya nggak hanya dari kaum adam saja lho, tetapi juga oleh para perempuan yang nggak sedikit juga memegang teguh budaya ini.
Salah satu impian saya adalah punya keluarga dengan relasi yang setara dalam hal menunaikan hak dan kewajiban. Namun, terlanjur tumbuh dengan nilai-nilai patriarki ternyata membuat saya cukup sulit beradaptasi lho.
Sebuah contoh, pada hubungan relasi suami dan istri yang setara, tidak ada yang salah dengan kesetaraan pembagian kerja baik domestik dan non-domestik. Secara teori, bisa dibilang saya sudah lulus untuk hal yang itu. Namun pelaksanaannya? Hehe ternyata nggak semudah itu.
 |
| Src: Youtube/SearchlightPictures |
Marc Webb adalah sosok yang ada di balik film drama romantis yang memecah penontonnya menjadi #TimTom dan #TimSummer, 500 Days of Summer. Di tahun 2017 ia menggarap film drama keluarga berjudul Gifted yang diperankan oleh Chris Evan dan Mckenna Grace. Setelah berkali-kali diingatkan untuk menonton film ini oleh teman saya, akhirnya saya memutuskan untuk menontonnya.