Obrolan Teras
  • Beranda
  • Tentang Teras Saya
  • Self-Growth
    • Tumbuh
    • Ruang Kontemplasi
    • Sudut Pandang
    • English Pages
  • Relationship
    • Marriage Life
    • Motherhood
  • Ulasan
    • Supporting Kit
    • Ibu Baca Buku
    • Cerita dari Layar
  • Kontak



Bulan Maret kemarin rasanya lini masa dipenuhi dengan obrolan seputar When Life Gives You Tangerines (WLGYT). Serial ini katanya memang banyak ditunggu-tunggu oleh para pencinta drakor. Bagaimana tidak? Ada IU dan Park Bo Gum yang mengisi lini pemeran utamanya.

Aku sendiri baru menontonnya di akhir bulan April, dan selama itu juga aku berusaha menghindari segala jenis spoiler yang bertebaran di media sosial. Kesimpulanku setelah selesai menontonnya adalah, ini salah satu serial drama bergenre slice of life yang bagus banget buat ditonton.

Sinopsis

Ae Sun dan Gwan Sik sedang berjalan di ladang bunga canola

WLGYT adalah drakor yang menceritakan tentang perjalanan hidup seorang anak perempuan bernama Ae Sun. Kita akan melihat bagaimana kehidupan Ae Sun sejak ia masih kecil hingga dewasa dan memiliki anaknya sendiri, tentu tidak lepas dari kehidupan dan lingkungan sekitarnya. 

Kehidupan Ae Sun dibagi beberapa babak saat ia masih menjadi anak-anak, remaja, dewasa, hingga menjadi seorang ibu. Ae Sun kecil digambarkan sebagai anak pemberani yang gigih memegang mimpinya. 

Drakor ini menceritakan kehidupan secara umum, hal-hal biasa dan banyak dialami orang-orang. Nggak heran, ceritanya jadi sangat relatable, bahkan di beberapa bagian rasanya seperti melihat kehidupan sendiri yang dijadikan serial drama, haha, sambil ketawa getir. Contoh drakor yang bisa dibilang paling dekat dengan genre yang diusung WLGYT misalnya, Reply 1988. Kamu sudah nonton?

Sinematografi

Ae Sun mengejar Gwan Sik yang meninggalkan Pulau Jeju

Perjalanan hidup seorang anak bernama Ae Sun ini juga divisualisasikan dengan sinematografi yang apik. Nggak hanya memberikan visual yang indah tentang kehidupan di Pulau Jeju, WLGYT juga menjadikan visual sebagai media untuk menggambarkan suasana hati karakternya. Misalnya, lewat visual empat musim untuk menggambarkan perkembangan alur, situasi laut dan badai untuk merepresentasikan suasana hati Ae Sun dan Gwan Sik, dan masih banyak lagi. 

Drakor yang Puitis


Mimpi Ae sun adalah menjadi seorang penyair, cita-citanya konsisten diungkapkan sejak ia masih kecil. Hal yang membuatnya istimewa adalah bagaimana sutradara dan penulis membuat drama ini layaknya rangkaian bait-bait puisi yang menyentuh. A very poetic series. 

Ini adalah beberapa potongan puisi yang sangat menyentuh buat aku,
“I thought that once you grew up, your hands and heart would naturally become calloused. But everything’s still too hot for me. I get burned every day, but it hurts every time. Am I the only fool in the world? Is there anyone else adulting just fine?”-Ae Sun

"This loss is a hole, not one that can be filled, but one I will weave into the fabric of who I will become. You are a flower that bloomed only for a moment, giving a brief scent. I will remember forever." -Ae Sun

"Maybe your love is the only thing in this world that asks for nothing from me. And maybe, just by staying alive, by being here, I am giving more than I realize." - Geum Yeong

 Perjalanan Mimpi Seorang Ibu

Gwang Rye berbicara kepada Ae Sun tentang mimpi

Setiap orang bisa bermimpi, memiliki cita-cita, ambisi dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam hidupnya. Kalimat tadi tidak sulit untuk dipahami, dan berlaku untuk siapa saja. Namun, bagi seorang ibu pada umumnya, kalimat itu tidak bisa diaplikasikan sesederhana itu. 

Tidak ingin memukul rata, namun banyak terjadi, terutama di lingkungan yang menganut sistem patriarki. When Life Gives You Tangerines memberikan gambaran bagaimana pada masa itu mimpi-mimpi perempuan dikerdilkan dan pendidikan dikesampingkan. 

When Life Gives You Tangerines seperti angin segar dan memberikan semangat untuk para ibu. Lewat kisah tiga generasi dari Gwang Rye-Ae Sun-Geum Yeong, drakor ini seolah memberikan afirmasi bahwa mimpi-mimpi perempuan bisa terus hidup, tak kenal kadaluarsa dan bisa diwujudkan.

Bagian ini, membuatku kembali merefleksikan kembali perihal mimpi seorang ibu. Sebagai seorang anak perempuan dan juga seorang ibu, aku ingin bilang, sebelum menjadi ibu, kita adalah perempuan, yang memiliki goals, cita-cita, dan ambisi. Jika saat ini rasanya belum tepat waktu untuk wujudkan mimpi, bukan berarti ia menjadi basi. Jika hari ini kita masih punya mimpi yang sama dengan 10-20 tahun lalu, itu bagus. Namun, kalau berbeda pun, tak apa.

Catatan Penting Tentang Patriarki

Ae Sun menghadang mobil

When Life Gives You Tangerines memiliki setting waktu di tahun 1950-an, jadi kebayang, ya, betapa patriarkisnya sistem masyarakat yang berlaku saat itu. Salah satu yang aku highlight perihal ini adalah, bagaimana sistem ini begitu subur di masyarakat dan dilanggengkan pula oleh perempuan. Namun, menurutku, mereka yang melanggengkan adalah mereka yang memiliki trauma(menjadi korban) karena hidup di tengah sistem ini.

Gwang Rye adalah anomali di tengah sistem masyarakat patriarki. Ia ingin anak perempuannya mengejar mimpinya untuk tetap sekolah, masuk ke perguruan tinggi dan jadi penyair, dari pada menjadi seorang haenyo yang setiap hari bertaruh nyawa. Ae Sun melepaskan mimpinya untuk bisa kuliah, namun tidak ingin nasibnya yang harus melayani keluarga suami, karena ekspektasi tradisi, diteruskan oleh anaknya.

"I don’t want her to set the table; I want her to flip the table.” - Ae Sun

Memiliki idealisme untuk menentang sistem adalah sebuah keberanian. Ae sun dan Gwang Rye adalah tokoh revolusioner nan progresif di drama ini. Dengan keteguhan yang dimilikinya, mereka pun tetap memiliki sisi kelembutan seorang ibu. A matriarch that you are! 

Penutup    

Gwang Rye dan Ae Sun

Aku bisa bilang drakor ini kaya akan makna yang terkandung di dalamnya. Beautifully written and magnificently crafted. Nggak heran, drama ini punya skor hampir sempurna di website IMDB dan Rotten Tomatoes. Well deserved! Buatku, When Life Gives You Tangerines adalah salah satu drama terbaik yang aku tonton di tahun 2025.

Ah, lega sekali akhirnya aku bisa menumpahkan kecintaanku dengan drama ini di sini. Buat kamu yang sudah nonton, apa yang membuat kamu terkesan dengan drama ini? Cerita di kolom komentar, yuk!

Ibu yang masih belajar,




Tiga tahun setelah terbit, aku baru bisa membaca novel Babel, karya R. F. Kuang. Ini adalah karya Miss Kuang pertama yang aku baca. Sebelum membaca novelnya, aku nggak membaca blurb, review atau sinopsis. Aku hanya tahu informasi bahwa ini adalah novel yang membahas tentang bahasa dan penerjemahan, sisanya aku nggak berekspektasi apapun...

Disclaimer: Kamu nggak akan dapat kritik negatif di tulisan ini, karena aku suka banget, tapi, aku tetap terbuka dengan diskusi dari sudut pandang yang berbeda :)

Hari ini aku kesal sama anakku.

Loh, bagaimana ini? Kok yang selama ini bilang sedang mengusahakan gentle parenting itu malah bilang kesal sama anak? Hmm, jadi begini...

 


Mudik selalu punya cerita yang hangat dan reflektif buatku. Seperti halnya cerita mudik tahun ini, alhamdulillah nggak berlalu begitu saja. Kebetulan, ini adalah tahun ketiga aku mudik saat lebaran ke kampung suami. Aku bisa bilang, rasanya makin seru karena anakku sudah menginjak umur 2 tahun, jadi aksinya, akrobatnya, proyeknya, celotehnya sudah lebih beragam. Alhamdulillah.

Kali ini, aku mau cerita tentang interaksi maupun respon dari orangtuaku (mertua) tentang gaya pengasuhan keluarga kecilku.  


Saat mudik kemarin, ada yang menarik buatku. Aku melihat bagaimana interaksi bapak dan ibuku (mertua) yang sangat suportif dengan pola pengasuhan kami, baik di rumah dan saat bersilaturahmi ke rumah saudara yang lain. Misalnya seperti, kami punya jadwal makan yang cukup ketat buat anak kami (dia pernah trauma makan, faltering dan masih belajar mengenal rasa lapar, bikin kami nggak punya pilihan lain selain berusaha disiplin soal jam makan dan tata laksana pemberian makan) atau perihal no screen time yang masih diterapkan ke anak kami sampai saat ini. 

Misalnya, saat kami sedang berkunjung ke rumah saudara kami yang lain. Ibu nggak segan buat langsung bilang,

"Makasih Mbah, anaknya nggak makan itu."
"Oh, iya, anaknya makan kacang aja, nggak apa-apa."
"Om, itu asap rokoknya tolong dijauhkan, maaf sebelumnya."

Begitu pun dengan bapak. Selama 10 hari kami mudik, tidak pernah bapak menyalakan televisi (walau sebenarnya memang bapak bukan tipe heavy viewer) dan tidak pernah terlihat menggerutu karenanya. Sehingga, seringkali waktu senggangnya digunakan untuk bermain bersama cucu. 

Pun dengan ibu dan adikku selama ini. Terutama saat kami harus menitipkan anak kami atau saat ibuku kangen dan ingin anakku main di rumahnya. 

"Ini tadi sudah snack time jam 11, dan bobo  dari jam 12, ya."
"Tadi dia ikut gue jalan sore, ya."
"Tadi ke rumah tetangga dikasih wafer, tapi yang makan adek kamu akhirnya, dia kan nggak makan."

Silent Appreciation

Tentu ini adalah hal yang aku syukuri tanpa henti, bisa juga dibilang sebuah privilege dengan memiliki orangtua yang suportif. Tapi, juga jadi momen yang buat aku merefleksikan kembali, apakah selama ini sudah memberikan apresiasi yang cukup untuk orang-orang yang selama ini ikut "mengasuh" keluarga kami. Jangan-jangan selama ini, rasa syukur dan apresiasi yang kami rasa hanya menjadi silent appreciation.

Silent appreciation ini bukan term formal atau akademis. Ini adalah term informal yang sering digunakan untuk menggambarkan situasi saat seseorang memiliki perasaan apresiasi, namun tidak diungkapkan baik verbal/non verbal sehingga orang yang diapresiasi tidak mengetahuinya. 

Menurutku, menyampaikan apresiasi langsung, dengan bilang "terima kasih" disertai dengan alasan yang jelas mengapa kita berterima kasih itu penting. Untuk memberikan acknowledgment kepada orang-orang yang perlu diapresiasi. Nggak perlu sering, tapi cukup agar mereka tahu bahwa perannya penting.

Jika dikaitkan dengan konteks ceritaku sebelumnya, aku jadi mengingat lagi, bagaimana gaya pengasuhan di masa bapak, ibu dan mamaku sangat berbeda dengan apa yang aku lakukan saat ini. Namun, mereka mau berbesar hati, menurunkan ego, learn, relearn bahkan unlearn hal-hal terkait pengasuhan. 

Seperti yang pernah aku lakukan kepada ibuku (kandung), satu malam aku ngobrol dengan ibu. Aku bilang terima kasih sudah mendukung kami, mohon maaf kalau ada banyak hal yang mungkin terlihat ribet, tapi, kami sangat berterima kasih. Perihal kebijaksanaan dan kesabaran dalam mendidik, tentu sosok-sosok merekalah yang menjadi panutanku.

Setelah menjadi ibu, menurutku, kita nggak benar-benar membesarkan anak-anak sendirian, ada "kampung" yang juga ikut membesarkannya. Di luar orangtua sebagai caregiver utama, daycare atau babysitter, ada lingkungan rumah, pertemanan, komunitas, orang-orang yang ditemui di cafe, hingga pemerintah selaku pembuat kebijakan, mereka juga bagian dari kampung yang membesarkan anak-anak.

Penutup

"It takes a village to raise a kid"

Mungkin kamu sudah nggak asing dengan pepatah tadi, ya. "Butuh sekampung untuk membesarkan anak", kalimat yang berarti secara tersirat maupun tersurat. Dan orangtua adalah unit terkecil dari "kampung"-ku. Terima kasih sudah menjadi bagian dari "kampung" yang aman untuk tumbuh.

Aku menuliskan ini sebagai bentuk terima kasih sekaligus apresiasi untuk semua yang telah memberikan dukungannya dengan menghargai keputusan pengasuhan yang dibuat oleh orangtua tanpa memberi penghakiman. Apa yang tertulis di sini, bisa saja banyak dialami orang banyak, namun bisa juga tidak. Walau tidak memiliki pengalaman yang sama, tulisan ini tidak menegasikan pengalaman siapapun. 

Salam,

Ibu yang masih belajar,


Halo! Lama tak bersua, tiba-tiba sudah ganti tahun lagi. 

Source: Pexels/Alex P

Kami sedang menjalani proses menyapih. tapi, agar tidak hilang dan menguap begitu saja, aku coba menuliskan refleksinya di sini, ya. Selamat membaca!

Newer Posts Older Posts Home

Tentang Saya

Halo! Terima kasih sudah mampir ke teras saya. Ini adalah teras untuk menepi sejenak dari dunia yang tergesa.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Coco (2017): Perjalanan ke "Tanah Kematian" yang Punya Banyak Makna
  • Menua Seperti Senja
  • Tentang 'Waktu yang Tepat'
  • 2020: ...
  • Healing from Loss: A Conversation with Younger Self

Categories

  • Cerita dari Layar 7
  • English Pages 3
  • Ibu Baca Buku 4
  • Marriage Life 1
  • Motherhood 4
  • Ruang Kontemplasi 8
  • Sudut Pandang 4
  • Tumbuh 3
  • Ulasan 1

Blog Archive

  • ▼  2026 (1)
    • February (1)
  • ►  2025 (10)
    • August (1)
    • July (1)
    • June (2)
    • May (3)
    • April (2)
    • January (1)
  • ►  2024 (3)
    • November (1)
    • August (2)
  • ►  2022 (6)
    • December (1)
    • August (1)
    • March (1)
    • February (2)
    • January (1)
  • ►  2021 (7)
    • June (2)
    • April (1)
    • March (1)
    • January (3)
  • ►  2020 (5)
    • May (1)
    • March (1)
    • February (3)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates